JAKARTA - Bencana banjir bandang yang melanda wilayah Aceh pada November 2025 menyisakan kerusakan parah bagi banyak desa, termasuk Desa Sahraja di Kabupaten Aceh Timur.
Tidak hanya rumah tinggal yang hanyut, fasilitas umum dan sarana ibadah pun ikut lenyap tersapu arus deras. Namun, di tengah keterbatasan dan kondisi darurat, warga Desa Sahraja memilih bangkit dengan memanfaatkan apa yang tersisa dari bencana tersebut.
Kayu-kayu gelondongan yang terbawa banjir kini menjadi harapan baru bagi warga. Dari material itulah, masyarakat berinisiatif membangun kembali rumah ibadah agar aktivitas keagamaan tetap dapat berjalan, terutama menjelang bulan suci Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri.
Inisiatif Warga Bangun Rumah Ibadah Pasca Banjir
Pembangunan rumah ibadah di Desa Sahraja dilakukan secara swadaya oleh warga yang terdampak langsung banjir bandang. Kayu gelondongan yang terseret arus banjir dikumpulkan dan direncanakan untuk digunakan sebagai bahan utama pembangunan musala.
“Rencananya kami bangun (rumah ibadah) dari sisa kayu,” ujar Rudi Jasa, seorang warga Desa Sahraja yang ditemui di Dusun Sarah Gala, Desa Sahraja, Aceh Timur, Aceh.
Kayu-kayu tersebut sebelumnya merupakan bagian dari material bangunan maupun pepohonan yang hanyut saat banjir. Warga kemudian mengumpulkannya sedikit demi sedikit, menjadikannya sebagai sumber bahan bangunan di tengah keterbatasan akses dan bantuan.
Keterbatasan Material dan Harapan Bantuan Pemerintah
Meski berinisiatif membangun rumah ibadah secara mandiri, warga Desa Sahraja mengakui masih membutuhkan dukungan dari pemerintah. Keterbatasan peralatan dan bahan penunjang menjadi kendala utama dalam proses pembangunan musala.
Warga membutuhkan bahan bakar untuk memotong kayu gelondongan yang nantinya akan digunakan untuk membangun musala. Tanpa bahan bakar dan alat pemotong yang memadai, kayu-kayu tersebut belum dapat dimanfaatkan secara maksimal.
Adapun jumlah kayu gelondongan yang telah dikumpulkan diperkirakan mencapai sekitar 1 ton. Namun, untuk membangun sebuah musala yang layak digunakan, warga membutuhkan sekitar 5 hingga 6 ton kayu.
“Ini (pembangunan musala) persiapan untuk shalat tarawih dan Idul Fitri nanti. Cuma, sekarang kami masih di tenda darurat,” ucap Rudi.
Kondisi tersebut menggambarkan keterbatasan yang masih dihadapi warga, sekaligus menunjukkan tekad mereka untuk tetap menjalankan ibadah meski berada dalam situasi sulit.
Peran Relawan dan Bantuan Darurat BNPB
Di tengah keterbatasan fasilitas permanen, bantuan dari berbagai pihak menjadi penopang utama aktivitas ibadah warga. Rudi menyampaikan rasa terima kasihnya kepada para relawan serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang telah memberikan bantuan darurat.
Bantuan tersebut berupa tenda darurat yang difungsikan sebagai tempat ibadah sementara, pengeras suara atau toa, serta sejumlah perangkat ibadah lainnya. Fasilitas tersebut memungkinkan warga tetap menjalankan aktivitas keagamaan meski rumah ibadah permanen belum dapat dibangun kembali.
Keberadaan tenda darurat setidaknya memberi ruang bagi warga untuk berkumpul dan beribadah bersama, terutama menjelang datangnya bulan Ramadan yang memiliki nilai spiritual tinggi bagi masyarakat setempat.
Kerinduan Warga terhadap Rumah Ibadah
Hilangnya rumah ibadah akibat banjir bandang meninggalkan luka mendalam bagi warga Desa Sahraja. Sarana ibadah yang sebelumnya menjadi pusat kegiatan keagamaan dan sosial kini hanya tersisa bekas.
Dengan adanya bantuan tenda dan perlengkapan ibadah, warga mulai kembali melaksanakan ibadah secara berjamaah. Momentum Ramadan menjadi titik awal pemulihan spiritual bagi masyarakat yang sebelumnya kehilangan tempat ibadah.
“Setelah banjir ini memang hilang total. Cuma tinggal bekas. Jadi, kalau masalah kerinduan tempat ibadah, sudah pasti (kami rindu),” kata Rudi.
Kerinduan tersebut menjadi alasan kuat bagi warga untuk berupaya membangun kembali rumah ibadah, meskipun dengan sarana seadanya dan memanfaatkan sisa material dari bencana.
Dampak Banjir Bandang di Desa Sahraja
Desa Sahraja merupakan salah satu wilayah yang mengalami dampak terparah akibat banjir bandang yang melanda Aceh pada November 2025. Desa ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Aceh Utara dan Kabupaten Bener Meriah, sehingga turut terdampak luapan air dari wilayah hulu.
Sebanyak 243 kepala keluarga di Desa Sahraja kehilangan tempat tinggal. Selain rumah, berbagai fasilitas umum dan kebun warga juga rusak atau hanyut terbawa arus banjir. Hingga kini, sebagian warga masih bertahan di tenda-tenda darurat sambil menunggu proses pemulihan dan pembangunan kembali.
Pembangunan rumah ibadah dari kayu gelondongan menjadi simbol keteguhan warga Desa Sahraja dalam menghadapi bencana. Di tengah keterbatasan dan kondisi pascabencana, semangat gotong royong dan keinginan untuk tetap menjalankan ibadah menjadi kekuatan utama masyarakat untuk bangkit dan menata kembali kehidupan mereka.