BMKG Peringatkan Gelombang Tinggi di Perairan Sulawesi Utara hingga 5 Maret 2026

Senin, 02 Maret 2026 | 10:25:58 WIB
BMKG Peringatkan Gelombang Tinggi di Perairan Sulawesi Utara hingga 5 Maret 2026

JAKARTA - Aktivitas pelayaran dan penangkapan ikan di wilayah Sulawesi Utara diminta meningkatkan kewaspadaan dalam beberapa hari ke depan. 

Kondisi cuaca laut yang dinamis berpotensi memicu gelombang dengan ketinggian signifikan di sejumlah perairan. Situasi ini mendorong Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika untuk mengeluarkan peringatan dini sebagai langkah antisipasi demi keselamatan masyarakat pesisir dan pelaku transportasi laut.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan potensi gelombang tinggi di sejumlah wilayah perairan Sulawesi Utara hingga 5 Maret 2026. Peringatan ini menjadi perhatian penting, terutama bagi nelayan tradisional, operator kapal, hingga penumpang yang hendak melakukan perjalanan laut di kawasan tersebut.

"BMKG mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi hingga 5 Maret 2026," kata Koordinator Bidang Data dan Informasi Stasiun Meteorologi Maritim Bitung Ricky D Aror di Manado.

Peringatan dini tersebut didasarkan pada analisis kondisi angin dan dinamika atmosfer yang memengaruhi tinggi gelombang di wilayah perairan Sulut.

Arah dan Kecepatan Angin Dominan

Pada umumnya, kata dia, angin dominan bertiup dari arah barat laut-timur laut dengan kecepatan rata-rata antara 6-25 knot. Pola angin ini berkontribusi terhadap pembentukan gelombang di sejumlah titik perairan, terutama yang terbuka langsung dengan perairan lepas.

Kecepatan angin maksimum dilaporkan terjadi di perairan Kabupaten Kepulauan Sitaro yang dapat meningkatkan tinggi gelombang di sekitar perairan tersebut. Kondisi angin yang lebih kencang dari rata-rata berpotensi memperbesar risiko bagi kapal-kapal berukuran kecil hingga menengah.

Perubahan arah dan kecepatan angin di laut sering kali terjadi secara cepat, sehingga pemantauan berkala menjadi hal yang krusial. BMKG mengimbau masyarakat untuk tidak mengabaikan informasi prakiraan cuaca maritim yang diperbarui secara rutin.

Wilayah Berpotensi Gelombang Sedang

Ia mengatakan tinggi gelombang antara 1,25-2,5 meter (sedang) berpeluang terjadi di perairan Kabupaten Kepulauan Talaud, perairan Kabupaten Kepulauan Siau-Tagulandang-Biaro (Sitaro).

Tinggi gelombang serupa juga diperkirakan terjadi di perairan Kabupaten Kepulauan Sangihe, perairan Kabupaten Minahasa Utara, serta perairan selatan Sulawesi Utara.

Ketinggian gelombang dalam kategori sedang tersebut tetap memiliki risiko terhadap aktivitas pelayaran, terutama bagi kapal kecil dan perahu nelayan. Gelombang setinggi lebih dari satu meter dapat memengaruhi stabilitas kapal jika tidak diantisipasi dengan baik.

Wilayah kepulauan yang berada di utara Sulawesi ini memang rentan terhadap dinamika cuaca laut, mengingat posisinya yang berbatasan langsung dengan perairan terbuka. Oleh karena itu, nelayan dan operator kapal diimbau memperhatikan perkembangan cuaca sebelum melaut.

Risiko terhadap Keselamatan Pelayaran

Dia berharap, warga mewaspadai risiko tinggi gelombang terhadap keselamatan pelayaran, misalkan perahu nelayan memperhatikan kecepatan angin lebih dari 15 knot dan tinggi gelombang di atas 1,25 meter.

Kondisi tersebut dinilai cukup berisiko bagi perahu nelayan yang umumnya memiliki ukuran dan daya tahan lebih terbatas dibanding kapal besar. Ketika angin melebihi ambang tersebut, potensi oleng atau kesulitan bermanuver meningkat.

Kapal tongkang memperhatikan kecepatan angin lebih dari 16 knot dan tinggi gelombang di atas 1,5 meter. Sementara itu, kapal feri, kecepatan angin lebih dari 21 knot dan tinggi gelombang di atas 2,5 meter.

Ambang batas ini menjadi acuan penting bagi operator kapal dalam menentukan kelayakan berlayar. Gelombang yang tinggi dapat memengaruhi kenyamanan sekaligus keselamatan penumpang dan awak kapal.

Imbauan BMKG dan Antisipasi Masyarakat

Peringatan dini yang dikeluarkan hingga 5 Maret 2026 ini diharapkan menjadi perhatian bersama, bukan hanya bagi pelaku usaha pelayaran, tetapi juga masyarakat pesisir. Kewaspadaan dapat dilakukan dengan menunda perjalanan laut jika kondisi tidak memungkinkan serta memastikan perlengkapan keselamatan tersedia dengan baik.

Selain itu, masyarakat di wilayah pesisir diimbau untuk tidak beraktivitas terlalu dekat dengan bibir pantai ketika gelombang meningkat. Arus yang kuat dan hempasan ombak dapat menimbulkan risiko terseret atau terjatuh.

BMKG terus memantau perkembangan cuaca dan dinamika laut di wilayah Sulawesi Utara. Informasi terbaru akan disampaikan secara berkala melalui kanal resmi agar masyarakat dapat mengambil keputusan yang tepat.

Dengan adanya peringatan ini, diharapkan seluruh pihak dapat meningkatkan kesiapsiagaan demi meminimalkan potensi kecelakaan laut. Keselamatan pelayaran dan aktivitas nelayan menjadi prioritas utama di tengah kondisi gelombang yang berpotensi meningkat dalam beberapa hari ke depan.

Terkini